Paradoks Rindu
Aku merindumu dengan sangat, seperti burung yang mendamba angin untuk membawanya terbang ke langit biru. Langit biru yang luas terbentang dari ufuk timur hingga ke tepian barat cakrawala. Cakrawala yang jauh lebih tak berbatas daripada rinduku padamu.
Aku merindumu dengan penuh, sepenuh air telaga warna kala hujan. Hujan yang mengguyur bumi setitik demi setitik hingga menutup pandangan. Pandang mata yang masihlah lebih terang daripada rinduku padamu.
Aku merindumu dengan ragu, seolah tetesan air di ujung daun yang tak kunjung jatuh ke rengkuhan bumi. Bumi yang penuh warna sejak awal mula penciptaannya juga penuh cerita. Cerita yang lebih menggelora daripada rinduku padamu.
Aku merindumu, aku mendambamu.
tapi aku juga tersakiti karenamu...

0 Comments:
Post a Comment
<< Home